Aku berjumpa dengannya di resepsi pernikahan sahabatku, kurang lebih empat jam yang lalu. Vidio Porno Aku tahu.”
“Aku sedikit kasar. Lumayan juga penghasilanmu.”
“Cukup untuk seorang diri.”
“Let’s see. Canda dan tawa kami teruskan di sana. Lalu secara tiba-tiba kekakuannya berubah menjadi sebuah senyuman tipis. Ia menoleh dan menatapku dengan heran. Jangan berhenti. Nafasnya masih terengah. Kulihat lehernya yang putih bergerak-gerak saat ia menghabiskan setengah dari isi gelasnya. Jemarinya bergerak sedikit lebih cepat, membuatku mengerutkan wajah, menahan nafsuku sendiri. Sampai akhirnya aku merusak suasana dengan pertanyaanku.“Stop!” serunya, membuyarkan lamunanku. Bagaimana aku tidak merasa lucu?” Aku ikut tertawa juga mendengar pemikirannya tentangku. “Tidak apa-apa. Kamu akan mengantarku pulang, bukan?”
“Tentu saja. “Aku…aku ingin melihat..,” bisikku tanpa memandang wajahnya. Beberapa jam yang lalu aku masih melihat tawa di wajahnya, senyumnya.




















