“Ya, mesti dong!” jawabnya sambil cekikikan. Bokeb Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan.Ines tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka kancing jeans warna hitamnya. Ines meregang. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat.Aku pun demikian. Bibirku kini turun menyapu lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya.Ines menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku. Pinggul nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya kuat-kuat. Mas boleh milih Ines, Sintia atau yang lainnya”.




















